Evening Stroll.

Pukul enam sore di Amsterdam.

Pelajaran hari ini cukup menguras tenaga serta pikiran kedua mahasiswi asal Kota Kembang. Oleh karena itu, mereka menolak ajakan teman-temannya untuk menjelajahi pusat kota dan lebih memilih untuk menghabiskan sisa hari dengan beristirahat di dorm yang sudah mereka tempati selama sepuluh hari.

“Zar,” – yang dipanggil hanya mengangguk, acuh tak acuh, matanya terpaku pada layar sepuluh inci yang memancarkan cahaya redup. “Laper, nih. Cari makan, yuk,” ajak Kalyana setengah merengek.

Zara menggeleng tegas. “Nanti gendut.”

Kalyana sudah kenal betul dengan watak sahabatnya itu, berpendirian teguh. Watak yang sebetulnya bagus, tapi sama sekali tidak bagus pada saat-saat seperti ini. Dibutuhkan kontraksi otot leher dan segudang argumen untuk memaksa Zara menghancurkan program dietnya – hal yang tidak akan Kalyana lakukan di kala asam lambungnya memberontak minta diberi makanan.

Kalyana berjalan ke arah pintu dengan langkah gontai. Tak lupa diambilnya jaket abu-abu guna melindungi tubuhnya dari hembusan langsung angin malam kota Amsterdam.

“Sendirian?” tanya Zara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

Kalyana hanya mengangguk. Sepersekian detik kemudian ia tersadar bahwa lawan bicaranya tidak melihatnya. “Terpaksa, nih, daripada kelaperan.”

Samar-samar Kalyana mendengar sang roommate menjawab, “Ajak Devara aja, Al. Pasti mau nemenin.”

***

Angin musim panas dataran Eropa yang berhembus malam ini terasa terlalu dingin bagi gadis yang menghabiskan sembilan belas tahun hidupnya di negara beriklim tropis, membuatnya harus merapatkan jaket hadiah ulang tahun ke-17 dari mantan pacarnya, yang entah kenapa masih disimpannya.

Masih terang memang, tapi mencari makan sendirian di negeri orang yang baru ditinggali selama dua minggu sepertinya bukan ide yang baik. Akhirnya, setelah berpikir selama berada di dalam lift, Kalyana mengamini saran sang sahabat. Diketiknya nama ‘Devara Harrish’ di salah satu aplikasi IM dan dipencetnya layanan telefon gratis yang tersedia.

Terdengar nada sambung beberapa kali sebelum terdengar suara agak berat seorang laki-laki yang menyapanya. “Eh, halo, Dev, ini Kalyana.”

“Tau kok ini Kalyana. Kan ada namanya.”

Congrats Kalyana, untuk kesekian kalinya lo terlihat bego di hadapan Devara.

“Kenapa nelfon? Mau minta sambel?”

“Bukan,” sergahnya cepat. Ragu-ragu ia menyuarakan kalimat selanjutnya, ide gila sang sahabat, “Mau minta temenin cari makan malem. Tapi kalau ngga mau ngga apa-apa kok, gue beli snack di supermarket aja.”

“Mau makan apa emang?”

Kalyana berpikir sejenak. Sejak tadi ia tidak terpikir makanan jenis apa yang diinginkannya, yang ia inginkan hanyalah makan, apapun itu. Tiba-tiba seorang wanita lewat di hadapannya sambil menenteng… “Pizza?”

Be there in five mins.

***

Tidak sampai lima menit kemudian, sosok tinggi yang dibalut kemeja biru dan jaket hitam yang tidak pernah absen dipakainya muncul di hadapan Kalyana. Rambutnya masih setengah basah, tapi sama sekali tidak menganggu penampilannya malam itu.

“Hei,” sapanya pelan, tapi sukses membuat Kalyana, yang sedang sibuk membalas komen teman-temannya di Instagram, terkejut. “Tadi gue browsing ada resto Italia yang lumayan terkenal dan ngga mahal-mahal banget. Agak jauh, sih, mesti naik train.

Kalyana hanya bisa mengangguk. Lidahnya kelu, mungkin tersihir oleh wangi parfum laki-laki yang kini melambaikan tangan sebelah kanannya, mengisyaratkan Kalyana untuk berjalan sebelum langit berubah warna.

Angin yang berhembus kencang dan lambung yang kosong membuat langkah kaki Kalyana menjadi lambat, padahal ia ingin cepat-cepat sampai di restoran yang direkomendasikan Devara. Membayangkan hangatnya pizza dan lelehan keju membuatnya berusaha menambah kecepatan kakinya.

“Kal, capek jalan, ngga?”

“Lumayan.”

“Sewa sepeda aja, mau?”

Langkah yang susah payah ia percepat, kini benar-benar berhenti. Kalyana tidak tau bagaimana merespon ajakan Devara kali ini, sudah cukup ia terlihat bodoh di hadapan teman satu fakultasnya itu. Tapi ia tidak bisa berpikir kebohongan apa yang harus diutarakan ke laki-laki itu. “Gue… Ngga bisa naik sepeda.”

Devara mengatupkan bibir atas dan bawahnya rapat-rapat, jelas menahan tawa. “OK, kita jalan aja, deh.”

Sisa perjalanan hanya diisi oleh hembusan angin dan lampu jalan yang beberapa sudah mulai menyala. Dua remaja itu seperti sudah sepakat untuk menutup rapat-rapat mulut mereka hingga sampai di stasiun.

“Kal, itu kereta kita!” ujar Devara setengah panik mengingat jarak mereka yang agak jauh bahkan dari pintu terbelakang kereta tersebut. Tanpa sadar, ia menarik tangan kiri perempuan yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya, membuat perempuan itu ikutan berlari hingga masuk ke gerbong kereta yang agak ramai.

***

“Devara! Ke toko itu dulu, yuk. Mau cari baju buat abang gue.”

Satu informasi tambahan mengenai Kalyana yang baru saja diketahui Devara setelah menghabiskan lima belas menit di gerbong paling belakang kereta, ternyata Kalyana anak terakhir di keluarganya, sama seperti Devara. Kesamaan ini entah kenapa membuat Devara senang, padahal jutaan orang lain juga berbagi takdir terlahir sebagai anak bungsu.

“Gue ke toko sebelah boleh ngga, Kal? Mau liat running shoes,” ujar Devara setelah mereka menginjakkan kaki di toko yang berisi belasan mannequin pria dengan pakaian musim panas yang identik dengan warna cerah. Kalau tidak salah interpretasi, Devara merasa Kalyana agak ragu sebelum akhirnya ia mengangguk dan mempersilahkan Devara keluar.

Tepat saat Devara mencoba salah satu sepatu yang berhasil menarik perhatiannya, Kalyana muncul di hadapannya. Dilihatnya penunjuk waktu yang setia bertengger di pergelangan tangan kanannya sejak tiga tahun lalu, Perasaan baru lima menit, deh. Kok udah disamperin aja.

“Devara…” ujarnya sedikit merengek. “Bantuin gue,” membuat Devara menaikkan sebelah alisnya. “Gue ngga tau ukuran badan abang gue, kayaknya seukuran lo, deh.”

***

Ternyata berbelanja baju bersama Kalyana tidak membosankan, justru Devara sering dibuat tertawa oleh rentetan komentar Kalyana.

“Ih, kemeja polos doang mahal banget,” begitu salah satu komentar Kalyana ketika melihat kemeja putih yang harganya mencapai tiga digit. Tak lupa saat Kalyana tidak sengaja melihat baju yang bahkan Devara bersumpah tidak akan pernah memakainya, “Baju apaan, nih, emang cowok mau, ya, pake baju kayak gini?” “Abang gue kalau dibeliin ini ngamuk ngga, ya?”. Dan juga berbagai macam monolog, lebih tepatnya keluhan, yang keluar dari bibir yang dipoles lipstick merah itu, “Bodoh banget,  jelas-jelas ini summer, kenapa abang gue minta dibeliin sweater, sih?” “Nyusahin banget! Mending dia yang langsung kesini, deh,” “Ga tau apa, ya, adeknya laper,” ”Segala minta dibeliin running shoes, emang gue kesini buat beliin dia oleh-oleh doang apa?” yang sukses membuat Devara tertawa terbahak-bahak. Tidak menyangka bahwa seorang Kalyana, yang dikenal sebagai cewek jutek dan jaim di fakultasnya, bisa marah-marah hanya karena dititipi oleh-oleh.

Setelah membayar belanjaan ke kasir berwajah oriental yang tidak mengerti Bahasa Inggris dasar sekali pun, mereka keluar dengan dua kantong belanjaan besar di tangan Kalyana. Devara menawarkan diri membawakan belanjaannya, yang ditolak mentah-mentah oleh Kalyana. Bawa gini doang gue kuat kali, katanya.

Setelah berjalan beberapa ratus meter, Devara melihat plang restoran hasil rekomendasi orang-orang di dunia maya.

“Kal, itu restonya!” serunya sambil menunjuk ke seberang jalan. Kalyana mencoba mengeja nama restoran tersebut dengan aksen Italia, yang pastinya salah total, tapi tetap lucu. Gadis itu berlari kecil ke seberang jalan ketika lampu jalan menunjukkan warna hijau, meninggalkan Devara yang masih belum terbiasa dengan kelakuannya. Benar-benar di luar dugaannya.

***

Saat menunggu pesanan mereka datang – satu large pan pizza margherita pilihan Kalyana untuk mereka berdua, satu porsi lasagna untuk Kalyana, dan satu porsi bigoli untuk Devara, tiba-tiba Devara menanyakan sesuatu yang berhasil membuat pipi Kalyana bersemu merah dan membuatnya reflek menutupi poni yang baru ia potong dua hari sebelum berangkat ke Amsterdam. Laki-laki itu juga menambahkan, “Ngga apa-apa, Kal, tambah imut.”

Pernyataan Devara, yang bagi Kalyana merupakan pujian, sukses membuat wajah perempuan sembilan belas tahun itu memanas. Beruntung, seorang waitress cantik datang membawa pesanan mereka, yang membuat Devara mengalihkan seluruh perhatiannya ke Italian cuisine di hadapannya, takjub. “Are you sure kita bisa ngabisin semua ini berdua?”

Jawabannya: bisa.

Devara pun tidak menyangka perempuan mungil di hadapannya bisa menghabiskan empat slices pizza dan satu porsi besar lasagna hanya dalam waktu tiga puluh menit. Bahkan Devara memberi applause ketika Kalyana memesan tambahan tiramisu sebagai pencuci mulut.

“Luar biasa lo, Kal, bisa ngabisin makanan segitu banyak.”

“Laper banget gue. Tadi pagi cuma sempet makan croissant gara-gara Zara bangunnya telat. Kan gue jadi ngga ada temen makan.”

“Besok kalau mau sarapan chat gue aja. Gue yang temenin,” yang dibalas anggukan dan senyum tipis seorang gadis yang mati-matian menahan otot bibirnya untuk tidak membentuk senyuman yang lebih lebar lagi.

Mereka berjalan pulang melewati rute yang berbeda, kali ini Kalyana yang meminta untuk pulang naik bus. Suasana baru, Devara, begitu alasannya saat Devara hampir menolak usulannya – mengingat jarak halte yang lebih jauh dibandingkan stasiun. Tapi  setelah melihat lesung pipi di pipi kiri Kalyana, Devara langsung luluh. Lesung pipi Kalyana cukup dalam, mirip dengan lesung pipi sang Bunda, mengingatkannya pada kelakuan bodohnya belasan tahun lalu: menusuk-nusukkan pulpen sang Ayah ke pipi gembulnya, yang kini sudah menghilang entah kemana, demi mendapatkan bolongan pipi seperti Bunda.

Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, jutaan rintik air jatuh ke bagian bumi tempat Devara dan Kalyana berada, membuat Devara reflek mengumpat. Kalyana langsung meminta maaf karena ajakan bodohnya lah sekarang mereka kehujanan.

“Ke coffee shop itu aja. Bisa lari, kan?” ujar Devara sambil membuka jaketnya dan meletakkannya di atas kepala Kalyana, mengambil alih barang belanjaan Kalyana, lalu berlari secepat kilat ke toko kopi yang berjarak seratus meter dari tempat mereka semula, menghindari terkena tetesan lebih banyak lagi.

Kalyana terdiam sejenak. Perut yang terlalu penuh membuat kerja otaknya lamban dalam mencerna perlakuan Devara barusan. Di tengah dinginnya angin dan air hujan, ia bisa merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya, terutama bagian kanan dan kiri wajahnya.

***

“Nih, kopi,” ucap Devara sambil menyodorkan paper cup berisi kopi panas. Rambutnya yang tadi sudah sempat kering kini kembali basah pasca menerobos hujan tanpa perlindungan apapun.

Kalyana hanya menatap paper cup di genggamannya, lalu menatap laki-laki yang tampak sangat menikmati kopi panas di tengah dinginnya malam. Sadar diperhatikan, ia bertanya, “Ngga diminum?”

“Ngga suka kopi.”

“Duh, maaf, maaf. Mau apa, Kal? Hot chocolate? Hot tea?

Kalyana tidak menjawab, ia justru menenggak kopi tersebut hingga tersisa setengah. Mempersilahkan kehangatan mengalir di tenggorokannya. Sekaligus mencoba menikmati hal yang disukai oleh Devara. Mungkin dengan begitu ia bisa mengenal Devara lebih dalam lagi.

“Alya,” ujarnya tiba-tiba, membuat Devara menaikkan alis sebelah kirinya, bingung. “Panggil gue Alya,” tambahnya sebelum laki-laki itu menyuarakan pertanyaan di pikirannya.

Dan untuk kesekian kalinya, mereka berbagi keheningan.

Keheningan yang terasa lebih manis dari biasanya.

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. @HamdatunNupus says:

    Kok aku jadi penasaran nama resto pizza nya apa 😄
    ehemmm alya sama devara ini look sweet banget yah, meski percakapan nya biasa aku ngerasa ada romansa yang nyelip diantara mereka. Ada lanjutannya gak nih kak ? penasaran, siapa diantara mereka yang mulai ngerasain kupu-kupu terbangnya duluan :D, etapi kayaknya alya udah nyolong start duluan XDXD

  2. nihlafuadah says:

    Apa bedanya Alya sama Kalyana. Kalyana lebih cocok sama imut dan bawelnya. Semangat ka, ceritanya bagus!Tapi, disini, belum diceritain fisiknya Devara sama Klayananya. Jadi belum bisa abayngin deh, mirip sama siapa atau cashnya siapa!

    Fightingt ka!

  3. x4bidden says:

    Sesama orang perantauan meski cangkupan wilayah yang relatif lebih terjangkau sekaligus familier, aku berasa dekat dengan sosok Kalyana. Ih Devaranya juga care banget, jadi ngingetin sama seseorang deh. Hehe. Good story.

  4. Nurwidati Puspita says:

    Wuihhh, cerita nya bagus, ngalir aja terus baca nya, (ngalir aja terus bahasa saya) maaf maaf, saya komen nggak jelas

  5. Ratna says:

    Aaaah, jatuh cinta sama sifatnya Devara😍😍
    Lanjutin ceritanya kak! Seru banget, apalagi kalau di seriusin, aku yakin penerbit juga mau :)

    Narasi yang kakak bangun juga enak buat di baca, nggak ada typo dan karakter karakter yang kakak bangun itu udah kuat, penasaran sama kelajutnya cerita Kalyana dan Devara deh:)

    twitter: @imratnasr

  6. nunaalia says:

    sweet banget cerita ini. ada lanjutannya nggak kak?

  7. Devara nya boleh aku karungin terus bawa pulang, nggak? 😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s