Racauan Sang Pesakit

Sejak kecil aku bukan seseorang yang sepenuhnya sehat. Ketika teman-teman seusiaku menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di tempat rekreasi—Dufan, Taman Safari, you name it, aku lebih sering menghabiskan waktu menunggu giliran bertemu dokter di rumah sakit. Radang tenggorokan adalah sahabat karib yang tak pernah absen bertamu setiap pergantian bulan. Salah makan sedikiiit saja berujung pada dua sampai tiga hari pembengkakan amandel, tak jarang diikuti demam rendah. Menyebalkan.

Lebih dari satu dasawarsa berlalu. Setelah operasi pengangkatan amandel yang berjalan lancar, frekuensi radang tenggorokan menurun drastis. Namun sepertinya Tuhan tidak akan membiarkanku hidup tanpa sahabat karib, dikirimkan oleh-Nya: menstrual cramps yang tak kalah setia hadir tiap bulannya.

Sahabat karib baruku ternyata jauh lebih manja. Durasi bertamunya memang singkat, hanya satu hari, tapi dia luar biasa demanding. Saat ia datang, tak jarang ku lewatkan semua kegiatan yang harus ku lakukan pada hari itu. She hurts me real bad that I cannot even get out of my bed. Beberapa kali juga aku pingsan dibuatnya—tanpa kenal situasi dan kondisi, mulai dari pingsan di laboratorium kimia, di rumah sakit, hingga di pusat perbelanjaan—yang terakhir itu sukses membuatku tidak bisa membawa ransel akibat terbentur pinggiran besi tempat menjajakan DVD.

Mungkin di pikiran kalian: Ini mau curhat apa gimana, sih?

Iya, aku mau mencurahkan apa yang ada di hati. Bukan hanya tentang aku, tapi tentang pandanganku tentang pandangan orang lain tentang penyakit-penyakit tidak terlihat. Boleh lanjut?

Seperti yang telah ku sebut sebelumnya, menstrual cramps often forced me to skip classes or cancel appointments. Karena hal itu lah, tak jarang orang-orang berkomentar: Sakit perut mens doang sampe ngga masuk kelas. Kadang responsku hanya sebatas tertawa–lebih tepatnya menertawakan betapa pendeknya pikiran mereka, kadang juga aku irritated sekaligus sedih.

Allow me to channel my inner bitch. Kalau Tuhan kasih kalian sakit perut saat menstruasi, the exact excruciating agony I’ve felt for years, apakah kalian mampu melewatinya? Apakah kalian masih bisa mendeskripsikan itu sebagai ‘doang’? I doubt it.

Setelah mengalami hal-hal seperti itu, tidak hanya sekali atau dua kali, aku paham kenapa masih banyak orang yang melihat sebelah mata kesehatan mental dan penyakit lain yang tidak terlihat. Maaf kalau ini terkesan kasar, tapi menurutku, unless you suffer something obviousalmost nobody cares about your sufferingAlmost nobody sees it as a big deal. Terutama mereka mereka yang Tuhan kasih kenikmatan merasakan rasa sehat sepanjang hidupnya.

Berjuta orang mampu bersimpati terhadap korban-korban, entah akibat kecelakaan atau bencana alam, yang mengalami luka luar biasa mengerikan, tapi hanya segelintir dari mereka yang benar-benar mampu berempati terhadap mereka mereka yang memiliki gangguan tidak terlihat. Seakan-akan apabila mereka tidak bisa melihat efek dari penyakitnya, mereka akan berasumsi bahwa itu adalah hal sepele. Penyakit kejiwaan, kelainan genetik, gangguan psikosomatik, dan berbagai penyakit dalam dimana fisik sang penderita terlihat baik-baik saja, semua itu hanya penyakit tidak signifikan yang tidak perlu dibesar-besarkan, kan?

Mengutip dari Charlie Gordon di Flowers for Algernon:

How strange it is that people of honest feelings and sensibility, who would not take advantage of a man born without arms or legs or eyes-how such people think nothing of abusing a man born with low intelligence.

Never mind. Just my two cents.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s