#BookReview Critical Eleven by Ika Natassa

Let me be honest here: belakangan ini Tiara jarang banget baca karya-karya penulis lokal. Bahkan sepanjang tahun 2016 cuma beli tiga buku lokal: satu buku karya Tere Liye dan dua buku karya Ika Natassa. Berbeda dengan Tere Liye yang beberapa karyanya telah tuntas ku baca, pengetahuanku tentang karya Ika Natassa awalnya masih sangat minim. Aku baru tahu karya beliau sejak #PollStory The Architecture of Love di Twitter. The #PollStory was very enjoyable that I was eager to read more books of her afterwards. 

Buku pertama yang aku baca adalah the famous Critical Eleven. Jujur, di antara semua buku Kak Ika, aku paling penasaran sama buku Critical Eleven karena saat Ika Natassa mengumumkan kalau novel ini akan diangkat ke layar kaya, hampir semua followers beliau heboh in a good way gitu. Selain itu, banyak banget dari mereka yang falls head over heel sama sosok fiksi bernama Aldebaran Risjad, yang bio Twitter-nya bertuliskan “nobody’s favorite“, sampe ada hashtag #TeamAle. Gimana ngga penasaran coba?

Now here I am, writing review about the one and the only local book I’ve read in 2016: Critical Eleven. So, enjoy the flight with me talking about a pleasing flight with Ale and Anya piloted by Ika Natassa.

BLURB

Processed with VSCO with m3 preset

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia meninginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

SINOPSIS A LA TIARA

Aldebaran Risjad dan Tanya Laetitia Baskoro: berkenalan pada penerbangan Jakarta-Sydney, bertukar kata-kata selama long haul flight, melewati that critical eleven moment dengan mulus, janjian untuk bertemu dan makan siang di Jakarta, berpacaran, hingga akhirnya sang Risjad berhasil me-Risjad-kan anak satu-satunya keluarga Baskoro. Kisah awal percintaan dua anak manusia ini boleh dibilang berjalan mulus tanpa gangguan yang berarti. But there’s no such thing as perfect love story. 

Lima tahun berlalu. Kehidupan rumah tangga yang semula harmonis terancam bubar di tengah jalan. Anya, yang masih larut dalam kesedihan dan rasa sakit hati mendalam, enggan mengutarakan perasaannya ke Ale dan memilih untuk menutup mulut. Sementara Ale, yang sebenarnya tidak benar-benar tahu apa yang terjadi, mencoba berbagai macam cara agar Anya bisa kembali seperti dulu. Hubungan yang semula hangat dan manis bagai segelas kopi pada musim gugur di kota New York, kini telah berubah menjadi gelap dan dingin bagai kabin pesawat lewat tengah malam.

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi selama lima minggu kepulangan Ale diceritakan bergantian oleh Ale dan Anya, serta dilengkapi berbagai flashbacks yang menceritakan berbagai kejadian tidak terduga. At the end of the day, who’s gonna win: the ego or the love they’ve shared for years?

photo-1-9-17-4-07-36-pm
Critical Eleven: Cerita kehidupan Aldebaran Risjad dan Tanya Baskoro

So, Critical Eleven, what can I say?

Frankly speaking, I always judge a book by its cover. Karena menurutku the way you represent something really matters. Then, how about Critical Eleven? Pertama kali aku liat buku ini, aku langsung suka. Desain cover-nya sederhana tapi menarik, sama seperti isi ceritanya. Warna biru langit dan pesawat menggambarkan judul buku yang memang diambil dari istilah penerbangan. Then again, not all the books can be judged by their covers. Isi buku ini bener-bener jauh dari dunia penerbangan! Despite the title and the cover, hal-hal yang terkait dengan penerbangan hanya digunakan untuk mengantarkan para pembaca mengetahui awal kisah Ale dan Anya. Menurutku, pemilihan judul dan cover masih kurang bisa merepresentasikan keseluruhan isi cerita. I don’t know about you but honestly sampai saat ini aku masih kurang paham kaitan antara critical eleven dengan cerita Ale dan Anya selain pertemuan pertama mereka on board.  As if there’s a missing link between the title and the overall story. Kinda confusing.

Photo 1-10-17, 12 41 21 AM.jpg

Talking about the story, sejujurnya konflik-konflik yang disajikan oleh Ika Natassa dalam novel ini kebanyakan kurang relatable untuk remaja di bawah 20 tahun—termasuk aku, sehingga aku pribadi belum benar-benar bisa mendalami kesedihan yang dialami Anya selepas 31 Agustus 2014. Mungkin kalau dijadikan film baru kerasa sedihnya kali, ya? Finger crossedHowever, gaya bercerita Ika Natassa berhasil membuatku menyelesaikan novel ini in one sitting. It’s safe to say that the ‘critical eleven’ moment during the reading went well. 

Setelah baca pengertian critical eleven, aku baru sadar bahwa frasa tersebut tidak hanya relevan dengan dunia penerbangan atau dunia Ale-Anya, tapi juga pada saat membaca buku. Tiga menit pertama penerbangan sama dengan bab-bab awal buku. It’s important for a writer to keep the readers engaged by providing a good opening. Di novel Critical Eleven, cerita dimulai dengan berbagai fun facts pendukung narasi yang menunjukkan bahwa Ika Natassa bener-bener melakukan riset sana-sini selama pembuatan novel ini. +1 untuk Ika Natassa! Pembukaan ceritanya juga menarik sehingga the temptation to keep reading is real. The first three minutes, checked!

Kemudian, beratus-ratus halaman selanjutnya menyenangkan untuk dibaca. Ada sih beberapa bagian yang agak membosankan, tapi itu wajar banget! Banyak side stories tentang karakter-karakter pendukung yang ngga kalah menyenangkan untuk dibaca. Mulai dari cerita Ale dengan Bapak Jendral, romantisnya kisah pertemuan Mama dan Papa Anya, serunya persahabatan Anya dengan Tara dan Agnes, hingga hangatnya hubungan Ale dengan Raisa dan Nino. Walaupun beberapa di antaranya menurutku agak kurang nyambung dengan masalah utama, but still enjoyable.

Photo 1-10-17, 12 41 23 AM.jpg
Excerpt #1: Cerita pertemuan Papa dan Mama Anya. Manis!

Dan bab-bab terakhir, the crucial eight minutes before landing. Pengalaman landing bersama Ika Natassa di novel ini berbeda dengan novel Antologi Rasa yang terkesan terlalu terburu-buru. Pada bagian penyelesaian konflik, Ika Natassa selaku pilot berhasil membuat pesawat ini mendarat dengan sempurna. Sama sekali tidak terburu-buru. Ciamik!

Aku juga suka cara Ika Natassa membangun karakter-karakter di dalam novel ini. A petroleum engineer meets a management consultant. Kalau terjadi di dunia nyata bener-bener financially secured banget deh keluarga kecil ini! (LOL) Tapi dari yang aku baca di media sosial, ngga sedikit orang yang nyinyir tentang cara Ika Natassa mengekspos kehidupan para tokohnya. Contrary to popular beliefs, aku justru menganggap ini wajar banget mengingat pekerjaan keduanya yang emang pendapatannya tinggi. Dan menurut pandanganku mereka sangat real kok, mulai dari Ale yang kaget sama harga sepatu Anya sampai Ale yang nego ke Paul agar harga rumah impiannya sesuai budgetThat kind of event is not something new in the world we live in.

photo-1-9-17-4-09-53-pm-1
Excerpt #2: Reaksi Ale ketika tahu harga sepatu Anya

Ngomongin soal Ale dan Anya, menurutku keduanya emang pantes diidolakan. Anya yang sangat sabar ditinggal Ale setiap lima minggu dan Ale yang tak kalah sabar menghadapi sikat Anya pasca tragedi itu. The latter is the reason why loads of girls want Ale as their husband. Ganteng, pinter, mapan, pengertian, dan sabar, what’s not to love? Emang keliatannya sempurna banget, tapi ada satu hal yang aku kurang suka dari Ale. The way he suddenly blurted, trash talk mulu lo kayak cewek.” saat main basket bareng Harris. Minor sih emang. Dan Anya, damn gurl, aku juga mau kayak Anya! Wanita karir yang jam terbangnya sudah tinggi. Cantik, cerdas, wawasannya luas, dan sabar menunggu suami kerja di lepas pantai. Tapi tak ada gading yang tak retak. Aku kurang suka sikap dia yang ngga mau diajak menyelesaikan masalah ketika Ale mencoba memperbaiki segalanya. Untung Ale sabar dan cinta sama kamu, Nya!

photo-1-9-17-4-07-07-pm
Excerpt #3: Awal kisah Ale dan Anya dari sudut pandang Ale

To sum it up, dari sudut pandangku novel ini ditulis untuk mengajarkan bahwa holding grudge won’t take you anywhere dan not everything is better left unsaid. Ngga cuma dalam kehidupan dengan pasangan, tapi juga dalam seluruh aspek kehidupan. Kalau mau masalahnya selesai ya say what you need to say (at least that’s what John Mayer said), jangan diem aja. Ini salah satu hal yang bikin geregetan selama baca novel ini. Selain itu, kita juga harus hati-hati dalam berbicara. Kita ngga pernah tahu apa efek perkataan kita ke orang lain, don’t let your stupid mouth get you in trouble (yes, I quote John Mayer again. I need to stop here). Ah, banyak deh yang bisa diambil dari novel setebal tiga ratus halaman ini, kalian (siapapun yang baca ini) harus baca novel ini sekarang juga!

Mungkin beberapa tahun lagi kalau aku baca ulang Critical Eleven, aku akan merasakan sensasi yang berbeda. Untuk sekarang ini, sebagai pembaca 20 tahun yang bahkan untuk menikah pun belum kepikiran, aku menikmati cerita yang Ika Natassa coba sajikan dalam novel ini. 8/10 from me!

Film

Aformentioned novel ini akan dijadikan film dan it drove everyone mad! Setelah pemainnya diumumin, aku jadi excited banget karena ALE WILL BE PORTRAYED BY REZA RAHADIAN! Reza adalah salah satu aktor Indonesia yang emang dari dulu udah aku suka banget. Dari jaman kecil bahkan, sampe pernah aku kesenengan karena berdiri di belakang Reza di eskalator PIM #goodoldays. Imagining him as a petroleum engineer… I can’t handle too much excitement!  Lalu Adinia Wirasti as Anya. Aku baru pernah liat acting-nya di film AADC dan Tiga Hari untuk Selamanya. Di kedua film itu kan Adinia memerankan tokoh yang secara karakter maupun penampilan jauh banget dari bayanganku tentang Anya, makanya aku penasaran gimana kalau Adinia memerankan Anya. Oh iya, setelah tau mereka berdua yang memerankan Ale dan Anya, aku langsung baca ulang novelnya sambil membayangkan mereka berdua memainkan peran sebagai Ale dan Anya. Ternyata cocok!

Ngga cuma penasaran sama bagaimana Reza dan Adinia memerankan masing-masing tokoh utama, aku juga penasaran sama ‘penghidupan’ dari berbagai adegan yang ada di buku. Ada dua adegan yang paling bikin aku penasaran: scene pas Ale kerja di lepas pantai dan scene dimana Ale kerja keras bikinin kamar untuk (Alm.) Aidan.

I can hardly wait for the movie! Semoga tidak mengecewakan. *finger crossed*

P.S. sambil nunggu filmnya tayang atau sambil baca ulang Critical Eleven, bisa banget nih nonton video ini, biar merasa makin deket sama Ale dan Anya!

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Rina Fitri says:

    @Rinafiitri
    Waw, jadi penasaran bgt sama novel ini. Kayaknya magic banget gitu. Setelah arsitektur, Ika Natassa malah mengambil analogi dari dunia penerbangan. Sayang sekali belum ada satu pun novelnya yang telah kubaca huft😩
    Btw membaca kata “critical eleven” di bayanganku malah film action.

  2. Daruma says:

    aku belum baca bukunya kayaknya seru nih.
    nyokjajan.blogspot.com

    1. tiaralesmana says:

      Haha baca aja! Tapi kalau kamu belum berkeluarga kayaknya aku lebih merekomendasikan Antologi Rasa, deh. CE menurutku terlalu fokus ke masalah keluarga which I can hardly understand… Just an opinion tho. Anyway, thanks for stopping by. :D

  3. nihlafuadah says:

    Wah… kaka udah baca bukunya? Aku mau!

  4. x4bidden says:

    Udah punya bukunya, hasil berburu buku bekas. Smoga setelah baca review ini, semangat untuk memulai baca novel ini jadi bangkit. Gak pingin lihat filmnya sebelum selesai baca novelnya. Keburu filmnya hilang dari peredaran gak ya? hehe

  5. @AdinRim says:

    Critical Eleven itu ternyata waktu paling kritis di pesawat? Baru tau aja, hahaha. Kalau pas liat trailer filmnya, kok adegan di pesawatnya gak mendominasi ya? Jadi judul CE itu ternyata cuman buat awalan ya? Tempat pertemuan mereka gitu? Baru tau aja, belum pernah baca soalnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s