#BookReview Luka Dalam Bara by Bernard Batubara

Halo, semua! Kembali lagi di Tiara’s #BookReview. Tulisan kali ini bukan hanya tentang ulasan salah satu buku yang beberapa minggu lalu aku baca, tapi aku juga mau sedikit share tentang sebuah aplikasi yang sangat membantuku untuk baca novel-novel berbahasa Indonesia, yaitu iJakarta!

Belakangan aku cukup sering pinjam buku dari perpustakaan digital ini. Gratis dan praktis (aye, you should use this as your tagline, iJak!). Asal punya kuota internet atau tersambung dengan koneksi wifi, you are only one click away from the books. Koleksinya pun relatif lengkap untuk ukuran aplikasi gratis. Suka!

aplikasi-ijakarta-feature-image

Mungkin kamu bingungngapain aku ngebahas tentang iJakarta padahal judul tulisan ini adalah “#BookReview Luka Dalam Bara by Bernard Batubara”?

Jawabannya: karena tanpa iJakarta, mungkin sampai saat ini aku ngga akan membaca Luka Dalam Bara oleh Bernard Batubara. JadiiJakarta dan Noura Publishing generously launched the free digital version of Luka Dalam Bara on its apps. And it’s legal! Selain itu, bulan Mei ini mereka mengadakan reading challenge di mana kita ditantang untuk membaca novel ini di aplikasi iJakarta, lalu membuat ulasannya di aplikasi dan di blog. This is what I’m doing right now.

Sebelum lanjut membahas bukunya, aku mau sedikit bahas tentang penulisnya, ya. Bernard Batubara bukan nama penulis yang asing bagiku. Aku tahu Bara dari tweet-tweet dan tulisan-tulisan di blog pribadinya, terutama tentang review buku yang dia baca. Cara dia menulis review sangat persuasif sehingga aku sukses memasukkan beberapa judul ke wish list-ku. Sedikit intermezzo, saking sukanya sama cara penulisan Bara, aku pernah mengirim sebuah surel ke dia mengenai review buku. Guess what… Dibales! He said that he’d read one of my posts and said something quite nice regarding my post. Pendek sih emang balasannya, tapi itu hal yang lumrah mengingat kesibukannya sebagai penulis.

But that was all. Aku hanya tahu tulisan Bara di blog, bukan di karya cetak yang diterbitkan. Sejujurnya, awal Bara mengumumkan bahwa buku barunya akan diterbitkan, aku berniat membeli bukunya karena penasaran sama hasil tulisannya di buku. Tapi, begitu tahu bahwa buku kali ini adalah kumpulan prosa dan tulisan pendek pribadi, aku mengurungkan niatku. Aku bukan tipe orang yang bisa menikmati buku-buku berisi prosa-prosa atau puisi-puisi tanpa plot yang jelas. Terlebih lagi judul bukunya terdengar sangat ‘menyedihkan’. It was a NO from me.

Tapi, aku sangat beruntung karena aku ngga sengaja menemukan reading challenge ini. Sangat beruntung, dan bersyukur. Kalau ngga, ya kayak yang tadi aku bilang, mungkin sampai nanti aku ngga akan pernah membaca buku yang ternyata bagus ini.

So, Luka Dalam Bara, what can I say?

Judging from the title, I was expecting a series of grievous stories that, if it’s well-written, would make me weep, but it didn’t. It made me simper instead. Lesson learned: don’t judge the book from its cover and its title.

c_oszj1uaaa9hfh
Ulasan singkat Luka Dalam Bara di aplikasi iJakarta

Dari halaman pertama, di mana Bara menuliskan tentang Untuk Apa Saya Menulis?, aku udah suka isinya. Bara bilang, alasannya menulis buku adalah untuk kabur dari kenyataan dan untuk menyimpan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, yang tidak bisa disampaikan melalui suara.

Saat saya marah, gelisah, patah hati, cemburu, cemas, takut, saya tidak selalu bisa mengungkapkannya bahkan kepada orang yang sangat dekat dengan saya. Saya hanya tahu satu cara untuk mengeluarkan ragam macam emosi itu: menulis.

Aku suka penggalan di atas karena aku bisa relate. Karena halaman pertama itu lah aku tertarik membaca isi buku ini lebih lanjut, bukan lagi hanya karena aku mau mengikuti tantangan membaca.

Pada bab-bab selanjutnya, aku bisa dengan mudah meresapi penggalan-penggalan perasaan yang ia tuangkan di buku ini. Walaupun ada bagian-bagian yang kurang bisa kunikmati sepenuhnya, secara keseluruhan aku menikmati pengalaman pertamaku membaca karya Bernard Batubara. Memang judulnya identik dengan rasa pilu, tapi kenyataannya tulisan-tulisan Bara di buku ini justru lebih banyak membuatku tersenyum. Sebuah pengalaman membaca yang unik di mana setiap kali memulai suatu bab baru aku membaca setiap kalimat dengan khusyuk, berusaha memahami luka yang ingin diceritakan, tapi entah sihir apa yang digunakan Bara dalam buku ini, hampir semua paragraf penutup berhasil membuatku tersenyum. Mungkin benar apa yang ditulis Bara dalam bab “Dialog-Dialog yang Tidak Pernah Terjadi”,

Sejauh ini aku sudah mengetahui beberapa hal yang perlu dilakukan saat patah hati. Pertama, mengakui lukanya. Kedua, meresapi rasa sakitnya.

Ditambah ilustrasi-ilustrasi indah pada beberapa bagian buku, tanpa terasa aku telah mencapai titik terakhir Luka Dalam Bara. Bagian favoritku adalah “Kronik Sebuah Perjalanan” dan “Surat-Surat untuk J”. Ceritanya ringan dan sederhana, tapi tetap meninggalkan kesan. Benar-benar buku yang pas untuk dibaca pada sore hari akhir pekan ditemani secangkir cokelat atau kopi panas—yang pada akhirnya akan kau abaikan karena terlalu khusyuk menikmati isi buku.

Katanya, buku ini adalah kumpulan fragmen-fragmen perasaan aktual Bara, thus it’s safe to say that Bara berhasil membagikan luka melalui cara yang tidak biasa: tulisan indah yang bisa membuat siapapun yang membacanya tersenyum.

“Bagaimana lautmu? Apakah dia tempat yang menyenangkan untuk menyelam? Ataukah dia membuatmu hilang napas dan tenggelam?”

Ketika hendak menjawab pertanyaan itu, dia menghela napas cukup panjang. “Yang jelas, lautku saat ini telah menyelamatkanku dari laut yang dahulu pernah menenggelamkanku.”

Advertisements

11 Comments Add yours

  1. @CHOCOQUEENY says:

    saat kk menulis penggalan quote dari bara,
    “Saat saya marah, gelisah, patah hati, cemburu, cemas, takut, saya tidak selalu bisa mengungkapkannya bahkan kepada orang yang sangat dekat dengan saya. Saya hanya tahu satu cara untuk mengeluarkan ragam macam emosi itu: menulis.”
    itu berkesan buatku, dan seketika buatku ingat sebuah lukisan badut dan 7 kurcaci karya Gacy si pembunuh berantai yg menyimpan misteri. Hubungannya apa? hubungannya adalah sebuah karya baik itu lukisan maupun tulisan dsb memiliki rahasia tersendiri dibalik karya itu dibuat. Dan Bani ini membuatku sadari hal itu.

  2. @HamdatunNupus says:

    I felt the same way kak ;’)

  3. @pyungmisugi says:

    yang jelas langsung pengen baca abis liat review ini :’

  4. nihlafuadah says:

    Bng Bara, emang keren, kemarin aku juga mau ikutan #MembacaLuka bareng sama yang kaka ikutin, lewat ijakta. Tapi syang, aku belum sempat review, kelupaan. Tapi, poin-poinnya akuudah masuk draft. Doakan yah ka, semoga reviewku menyusul walaupun ga termasuk dlam baca bareng ijakrta dan nourapublishing kemarin.

  5. x4bidden says:

    Aku sudah baca beberapa karya Bernard Batubara dan memang ada sensasi aneh yang unik dan menggelitik. Mungkin aku harus memasukkan Luka dalam Bara ke dalam List buku yang harus aku baca.

  6. sandraartsense says:

    Aku juga udah baca buku unik ini kak^^ kebayang kalo jadi sang mantan ya hahah

  7. @AdinRim says:

    belum pernah baca bukunya Bernard Batubara sih, tapi kalau yg bagian “fragmen-fragmen perasaan aktual Bara” itu berarti kisah nyata apa gimana ya? penasaran jadinya

  8. @sitasiska95 says:

    Thank’s to you, aku lagi download Ijak sekarang haha. Aku juga selama ini pakai perpus digital tapi yang Ipusnas. Karena aku pikir koleksinya sama, jadi nggak download Ijak.
    Daan aku udah lama pengin bava buku ini, tapi blm kesampean. Krn yah Surat untuk Ruth aja sampai sekarang masih antri di Ipusnas, apalagi buku baru ini biasanya belum masuk. Yang banyak menghias Ipusnas sih sastra2 klasik seperti milik Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu atau Leila S. Chudori.
    Bernard Batubara, adalah salah satu abang ganteng yang tweetnya hampir selalu aku rt. Dan sama kayak mbak Tiara, aku diretweet Replynya juga udah bahagia banget haha.
    Aku akan baca bukunya sumpah ini Ijak lemot banget didownload 😬
    Btw, Metafora Padma juga recommended

  9. nunaalia says:

    baru membaca reviewnya saja sudah terinspirasi dari buku ini untuk menuangkan segala perasaan yang tidak bisa disuarakan ke dalam tulisan.

  10. Sebenarnya aku bukan tipe pembaca online, lebih suka paperback, yah mungkin karena keterbatasan ‘sinyal’ dikarenakan domisiliku yang cukup terpencil dan yang utamanya juga karena indera penglihatanku gak begitu ‘kuat’ menatap monitor atau layar handphone terlalu lama, sebab itu alhasil sampai sekarang gak pernah sama sekali menikmati sensani pembaca lewat e-book dan sebagainya. Dan untuk iJak! sendiri memang sudah gak asing di telinga, selain seliweran tweet-nya di timeline yang cukup buanyaaak dalam sehari, juga beberapa event-nya yang terkadang cukup berhasil membuatku berlama-lama men-scroll web-nya walaupun akhirnya gak ikutan juga haha ;D. Tapi yang pasti iJak! benar-benar memudahkan bagi pengakses e-book, aku salah satu di antara pembaca lainnya yang sangat mengapresiasi keberadaannya meskipun pada kenyataan gak pernah menggunakan iJak! But, no problem. It so feel a good.

    Luka Dalam Bara- mungkin kalau gak baca review kak Tiara aku bakalan gak akan pernah tahu gambaran isi dari karya Bernard Batubara ini, sosok penulis yang sangat dinanti-nantikan lahiran karya barunya. Meskipun isinya hanya kumpulan prosa dan tulisan pendek pribadi, sama seperti kak Tiara aku gak begitu suka dengan dua item ini, bahkan kumpulan cerpen pun gak pernah bisa kuselesaikan bacaannya, terkecuali untuk keperluan tugas ;D. Namun sepertinya Luka milik Bang Bara ini gak bisa begitu saja diabaikan, setelah menilik beberapa penggalan kutipan serta paparan narasi dari kak Tiara mengenai buku ini aku cukup tergiur untuk mengadopsinya, walaupun gak untuk sekarang, seenggaknya niatan ke arah sana sudah ada, sama seperti buku-buku sebelumnya karya Bang Bara satu ini gak bisa dianggap remeh, sepertinya akan banyak kejutan bagi pembaca yang baru akan melahap buku ini. So interest. Sebagai penggemar buku-buku Bara- Luka miliknya kali ini memang gak bisa dilewatkan begitu saja. Semoga kesampaian bisa baca buku ini. Thankfull kak review-nya ini ;)

    Regrads
    @DiddySyaputra

  11. IJak ini memang useful banget, daripada beli ebook bajakan yang nggak menghargai penulis dan penerbit, perpus digital satu ini memang lebih baik. Aku dulu milih IJak setelah aku tau ternyata bisa dipakai bukan cuma buat orang Jakarta 😂 Btw, soal tweet-nya Bang Bara, apa cuma aku yang sering nanggapi pertanyaan manis dia? wkwk. Luka Dalam Bara, nice one, wajib dimiliki buat pecinta Bang Bara atau bahkan yang ingin daftar jadi pendamping hidupnya. hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s