Brabbeltaal #011: Anxiety, Avoidance Coping Mechanism, and Whatnot

Malam ini balik lagi ke blog ini dan memutuskan untuk menulis post ini karena gue sedang merasa cemas dan takut sementara gue ngga tau mau cerita ke siapa. Mau cerita ke temen tapi belakangan ini gue tidak merasa punya teman yang bisa gue percaya untuk cerita tentang hal-hal macam ini, mau cerita ke orang tua tapi merasa cerita macam kayak gini tuh sangat insignifikan kalau dibanding sama masalah mereka. Dan seperti biasa dengan sotoy-nya gue merasa kalau ini bisa gue atasin sendiri sih, dan emang seharusnya gue atasin sendiri ngga sih?, tapi sekarang otak gue udah terlalu penuh sehingga gue memutuskan untuk menceritakan fragmen kecil pikiran gue di blog ini.

Pemicu kecemasan malam ini tuh sesepele ucapan adek gue saat tadi kita berkebun. Long story short adek gue bilang kalau gue sebenarnya udah tua, trus gue tersadar kalau gue emang udah tua. Awal denger agak nusuk juga, sih, tapi habis itu karena keasikan main tanah jadi gue ngga terlalu mikirin. Tapi begitu sendirian di kamar, habis ngelanjutin nulis post rekap buku yang gue baca tahun lalu (tungguin, ya, post-nya!) alih-alih ngerjain skripsi yang progresnya literally 0% ditambah dengerin lagu-lagu bernada menye di playlist, baru deh kepikiran omongan Anin tadi sore. Gue sudah tua.

Dalam waktu dekat gue akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang harus gue pilih and that being said, gue juga harus terima segala konsekuensi atas apa yang gue pilih dan tidak gue pilih. Bukan hal baru, sih, sebenernya, but still. Dalam waktu dekat gue sudah akan memasuki fase hidup di mana gue seharusnya sudah malu kalau apa-apa masih mengandalkan orang tua. Dalam waktu dekat mungkin gue harus tinggal sendiri dan mengurus apa-apa sendiri. Dalam waktu dekat banyak hal baru yang harus gue pelajari, yang harus gue pahami, yang harus gue jalani.

One million dollars question: apakah gue sudah siap? Tentu tidak.

Hal-hal semacam ini bikin gue kepikiran terus menerus, tapi nyatanya gue masih menyangkal hal-hal semacam ini dan mempersulit diri gue sendiri untuk berkembang. This avoidance coping mechanism is getting unhealthy. Setiap kali gue kepikiran semua tanggung jawab yang harus gue hadapi, otak gue selalu mikir “ya udah lah pikirinnya nanti aja, sekarang seneng-seneng dulu,” kadang emang berhasil menenangkan, sih. Gue baca buku atau nonton series untuk nutupin pikiran-pikiran itu dan setelah itu gue merasa lebih baik dan melupakan pikiran-pikiran itu. Efek jangka panjangnya ya kayak malam ini: semua numpuk dan udah ngga ada hiburan yang bisa membuat gue joyfully running away from my responsibilities. Ngga sehat, kan? Trus udah tau ngga sehat masih aja diterusin.

Ketara banget nih habis kayak gini trus tidur dan next time diulangi lagi menghindari semua hal yang seharusnya dilakuin/dipikirin baik-baik dengan cara baca atau nonton atau apa lah itu, sampai akhirnya semua numpuk kayak malam ini. Tipikal Tiara.

Sebenernya post ini ngga ada tujuannya juga, sih. Impulsif aja gitu nulis di blog tentang apa pun yang muncul di pikiran gue. Ngga tau mau dibawa ke mana, jadi kalau baca ini dan merasa ngga nyambung, ya emang ngga ada usaha untuk nyambungin. Bahkan gue nulis ini maju jalan aja, gitu, ngga pake ngeliat apa yang sebelumnya gue tulis, ngga pake di-edit juga. Curiganya sih ini salah satu bentuk avoidance coping mechanism in disguise. Kayaknya sih iya, begitu.

Ya udah lah ya, kalau ada yang baca ini sampai habis: halo, gimana rasanya ngabisin bermenit-menit untuk baca keluhan ngga jelas dan ngga nyambunggini?

Ya udah. Dadah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s